Pria Tampan Di Balik Masker
Brukk... Aku menabrak seseorang, ketika hendak berlari mengejar Agnes yang berjalan mendahuluiku jauh di depan. Seragam putih abu-abuku penuh debu.
"Astaga, siapa yang kutabrak ini?" Aku membatin tanpa menoleh pada orang yang kutabrak itu.
"Maaf!" Ucapku perlahan padanya. Aku bangkit dan membersihkan debu yang menempel pada rok seragamku. Ia hanya menatapku dengan tatapan kosong. Tanpa banyak bicara Ia pergi meninggalkanku di halaman sekolah. Aku berusaha menganalisis wajahnya yang tersembunyi dibalik masker itu, wajahnya nampak tidak begitu asing bagiku. Namun hasilnya nihil aku tidak mengenalinya.
"Aakhhh, dia sepertinya orang asing atau anak yang baru pindah ke Sekolah ini." Ujarku beranjak dari halaman sekolah.
Aku seorang siswa kelas 11, yang bersekolah di salah satu SMA favorit di Kotaku. Maklumlah kata Ibu, seberapa susahnya kami, aku tetap harus mendapatkan pendidikan terbaik.
"Selama Mama masih hidup, kamu harus mendapat pendidikan yang layak. Mama hanya ingin agar kamu tidak seperti Mama, yang bersekolah hanya tamat SD saja. Ya, dulu pemahaman kami tentang sekolah itu kurang baik. Itulah alasan mengapa Mama tidak melanjutkan sekolah. Mama tidak ingin kamu mengikuti jejak Mama." Itulah nasehat Ibu yang selalu kudengar sebelum aku tidur.
Sejauh pandang kulayangkan tampak Agnes sudah jauh berjalan di depan. Dengan berat hati aku kembali berlari mengejarnya, panas terik menusuk kulitku rasanya seperti aku sudah berada di neraka saja. Langkahku semakin gontai, tetapi aku belum dapat mengejar Agnes. Tetap kupaksakan kakiku untuk berlari, hingga akhirnya aku terjatuh lagi. Lututku penuh luka bekas goresan aspal, perih sekali. Aku berusaha untuk bangun tetapi usahaku sia-sia, aku kembali terjatuh lagi.
Oleh: Zhindi Klali, Kelas X di SMAN 1 Amfoang Utara.
"Sini kubantu." Ucapan singkat yang keluar dari seseorang yang tidak kukenali itu. Ya, dia orang yang kutabrak di halaman sana. Cepat-cepat kuseka air mata yang mengalir di pelupuk mataku.
"Manja." Ujarnya perlahan tetapi aku masih bisa mendengarnya. Tak kupedulikan ucapan tersebut.
Aku meraih uluran tangannya dan berusaha untuk berjalan lagi. Namun sepertinya energi di dalam tubuhku sudah terkuras habis. Ia melepaskan gengamanku dan pergi meninggalkanku lagi. Guratan emosi tergambar di wajahku.
Brummm....brumm....bruummm.... Motor itu berhenti tepat di hadapanku.
"Sini kuantar kau pulang ke rumah." Ucap pria tersebut. Pria bermasker yang mempunyai sikap dingin. Sedingin es di kutub utara. Berkat kebaikannya aku tiba di rumah.
"Terima kasih. Perkenalkan namaku Sari." Kataku sembari menjulurkan tanganku, mengajaknya agar berkenalan.
Namun hal itu tak ditanggapinya. Lantas Ia memutar motornya dan pergi menjauh dari rumahku. Tak lagi kupedulikan sikapnya itu, intinya Ia sudah berbaik hati mengantarku hingga tiba di rumah.
Tokk...tok.... tok.... tok...
"Selamat siang Ma," ucapku sambil mengedor pintu depan rumahku tanpa henti. Tak ada sahutan, rumah nampaknya sangat sepi. Aku segera memeriksa di bawah keset kaki, sebab di sanalah tempat di mana Ibu biasa meletakkan kunci rumah ketika Ibu hendak pergi ke mana-mana.
Dan benar saja, aku menemukannya di sana. Segera kubuka pintunya dan bergegas ke kamarku untuk mengganti pakaianku. Setelah itu aku membersihkan luka dilututku dan kemudian tidur untuk menghilangkan kepenatan yang berlebihan ini.
Aku tengah beselancar di sebuah wahana permainan, senang rasanya. Namun tiba-tiba aku terpeleset dan jatuh ke sebuah kolam yang dangkal. Aku menjerit histeris.
"Nak..! Nak..!" Ucap sesorang menguncang-guncang tubuhku. Siapa lagi kalau bukan orang yang biasa kusapa dengan panggilan Mama. Aku terhenyak dan terbangun dari tidurku.
"Ada apa Ma?" Tanyaku kelabakan. Mataku mengerjap-ngerjap mengeliat.
"Tadi kamu menjerit keras sekali. Ada apa? Apa kamu bermimpi tentang sesuatu yang buruk?" Tanya Ibu berturut-turut padaku. Ya kejadian tadi hanyalah bunga tidurku saja. Segera kuceritakan mimpi itu kepada Ibu dan benar saja Ibu terpingkal-pingkal mendengar cerita mimpiku yang dirasanya sangat lucu.
Aku beranjak bangun dari tempat tidurku saat Ibu keluar dari kamarku. Segeraku menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi yang cukup lama, karena itulah aku dijuluki 'putri toilet' oleh Kak Dion, kakak laki-lakiku satu-satunya orang yang tidak pernah bosan mengusiliku. Sejenak nama itu terdengar aneh di telinga, tetapi seisi rumahku sudah terbiasa dengan panggilan aneh Kak Dion tersebut.
Setelah itu aku ke dapur membantu Ibu mempersiapkan makan malam. Hari itu kami memasak menu favorit ayah, katanya sebagai hadiah sebab hari ini ayah mendapat penghargaan 'pegawai teladan' di kantornya.
Hari ini berhasil kulalui, walaupun terasa sangat berat. Aku tersenyum mengingat kejadian siang tadi. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku.
"Siapa pria bermasker yang kutemui siang tadi?" Ucapku bertanya pada diri sendiri.
Hari-hari berikutnya aku tak pernah melihat pria bermasker dan wajah dinginnya lagi. Walaupun aku bersama Agnes telah menyelidiki data siswa sekolah ini tetapi tak kutemukan identitas pria bermasker itu.
Menjelang liburan Desember kali ini aku meminta ijin pada Mama dan Bapak untuk berkunjung ke rumah Nenek yang berada di Desa Oel'neke.
Seusai mendapat ijin dari kedua orang tuaku, aku pergi ke berlibur ke Desa tempat di mana aku di besarkan. Dulu aku di titipkan pada Nenek sejak usiaku 2 tahun hingga usiaku menginjak 12 tahun barulah Ayah dan Ibu menjemputku ke Kota.
Ketika tiba di Kota Aku sempat merajuk dan tidak mau makan, seharian lebih aku mengurung diri didalam kamar. Ayah dan Ibu berusaha membujukku namun tak membuahkan hasil. Akhirnya aku keluar saat rasa lapar itu tak mampu kutahan lagi.
Aku terkekeh mengingat hal itu.
Mentari bersinar terang, cuaca begitu hangat. Suasana ini menciptakan kenyamanan tersendiri bagiku. Dengan sebuah ransel kecil aku bergegas menaiki sebuah Bus yang akan mengantarku ke Desa Oel'neke.
Ketika Bus yang kutumpangi mulai memasuki daerah pedesaan, perasaan bahagia bercampur rindu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang dulunya hadir mengisi hari-hariku. Dialah Satria sahabat kecil yang selalu kurindukan ketika aku berada di Kota.
"Kembalilah ke sini dan temui aku."
"Iya aku janji, setelah dewasa nanti aku akan mencarimu kesini."
Itulah janji yang kuucapkan sepuluh tahun yang lalu. Kenangan masa kecil kembali hadir di benakku. Kedatanganku ke Desa ini sebenarnya selain menengok Nenek, aku juga ingin sekali bertemu dengan Satria.
Setelah menempu perjalanan panjang akhirnya aku tiba di Desa Oel'neke. Nenek yang menjemputku di depan rumah langsung mendekap erat tubuhku dan mencurahkan air mata di dalam pelukan itu. Bagaimana tidak sudah sepuluh tahun aku tidak pernah berkunjung ke sini.
"Kamu lupa pada Nenek setelah bersama kedua orang tuamu." Ucap Nenek disela-sela tangisnya.
Aku diam membisu, memang salahku juga. Akulah yang tidak pernah meminta ijin untuk berkunjung ke sini. Aku berusaha membendung air mataku. Tetapi semua itu tak mampu kutahan, aku mulai terisak dipelukan Nenek.
"Mengapa tidak kau ajak cucuku ini untuk masuk?" Seru Kakek dari dalam rumah. Aku berlari mencium tangan Kakek, orang yang sangat kurindukan.
Sesudah makan aku duduk di bawah pohon Mangga, pohon ini mengingatkanku pada masa kecilku. Di sinilah aku biasa bermain bersama Satria. Banyak kisah lucu yang kami lakukan. Aku terus melamun hingga akhirnya Nenek menepuk pudakku perlahan dan berkata, "Nak, apakah Satria menemukanmu di Kota?"
"Satria pergi ke Kota?" Aku menjawab ucapan Nenek dengan pertanyaan lagi.
"Iya. Sebulan yang lalu Satria pergi melanjutkan pendidikannya di Kota, Ia bertekad untuk menemuimu di Kota." Jawab Nenek duduk di sampingku.
"Aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah perpisahan sepuluh tahun yang lalu." Unjarku mengenang masa di mana kami berpisah.
"Nah itu Nak Satria." Ucap Nenek sambil menunjuk seseorang yang sedang asyik menyiram bunga. Sifat Satria memang tidak pernah berubah, Satria sangat menyukai bunga sejak Ia kecil. Bahkan dulu Ia pernah dipukuli ayahnya karena menurut ayahnya seorang anak lelaki tidak pantas menyukai bunga.
"Satria!" Panggil Nenek padanya.
Satria yang merasa namanya dipanggil sontak saja menoleh kearah kami.
Degh.... Jantungku berdebar kencang, hatiku sepertinya hendak copot. Dialah pria bermasker yang kutemui di sekolahku beberapa bulan yang lalu.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
SMA Negeri 1 Amfoang Utara Salurkan Dana PIP untuk 184 Siswa, Kepsek Beri Teguran Keras Terkait Kedisiplinan
AMFOANG UTARA - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menyalurkan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 184 siswa dengan total nilai mencapai Rp317.700.000 (Tiga Ratus Juta Tujuh Ratu
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara
Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara
Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p
Semangat Demokrasi Warnai Pemilihan OSIS SMA Negeri 1 Amfoang Utara, Paslon 1 Terpilih Sebagai Ketua dan Wakil OSIS 2025/2026
Amfoang Utara, Kompas - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2025/2026 pada Jumat, 10 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di l