• SMA NEGERI 1 AMFOANG UTARA
  • Sekolah Untuk Memiliki Kesadaran Kritis

Upah Bagi Lintah Darat

Di Desa Naikliu, tinggallah seorang petani yang sangat kaya raya. Ia adalah Pak Fula. Pak Fula memiliki puluhan hektar sawah, di depan rumahnya berderet lima motor dan sebuah mobil sedan biru.

Namun ternyata kekayaan itu membuat Pak Fula dan keluarganya lupa diri. Pak Fula menjadi sombong, Ia lupa bahwa Ia adalah manusia biasa yang suatu saat nanti akan di panggil Tuhan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di dunia.

Yang Ia tau saat ini Ia adalah orang terkaya di Desa Naikliu. Keserakahan telah membuat Pak Fula menjadi sombong dan tidak memperdulikan sesamanya. Tak heran bila warga Desa Naikliu tidak menyukainya.


Zhindi Klali, (Pengirim Cerpen)

 

"Pak Fula itu sombong sekali ya.... tadi pas lewat depan rumahnya kebetulan aku berpapasan dengannya, tetapi ketika aku menyapanya Ia malah menoleh ke arah lain seakan-akan tak mendengar suaraku. Aku muak dengan sikap mereka!" Ujar seorang warga ketika sedang duduk di atas pematang sawah.

"Iya. Anaknya Si Mule juga ketularan sikap bapaknya, belagu amat."

"Ya namanya 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya' mereka itu masih kecil-kecil, tidak tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mereka akan meniru apa yang orang tua mereka perbuat. Oleh sebab itu, kita orang tua sebagai teladan, sebagai penunjuk bagaimana mereka akan menata hidup mereka dan bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku."

"Kamu benar juga." Kata seoramg warga

"Kemarin ketika di sekolah Mule mengolok anak saya. Katanya 'Kamu seharusnya tidak bersekolah di sini. Masa anak miskin seperti  kamu bisa bersekolah di sini?

Heyy.. sadar dong! Ini sekolah bukan untuk anak pengemis. Lihat teman-teman pakaiannya lusuh, tidak di setrika. Dasar anak pengemis! Padahal sekolah itu bukan hasil buatan tangan bapaknya." Cerita seorang warga dengan perasaan meluap-luap karena emosi.

"Kasian sekali ya, pasti si Bunga terpukul dengan ucapan si Mule. Kamu yang sabar ya, semoga mereka mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya."

"Mentang-mentang dia kaya, mau seenaknya merendahkan orang. Padahal kan setiap manusia punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Mule memang anak orang terkaya di Kampung ini, tetapi Mule tidak sadar kalau dia juga punya banyak kekurangan. Kata Si Bunga, Mule adalah anak paling bandel dan paling bodoh di kelas." Nampaknya Si Petani mulai tersulut emosinya.

"Iya betul itu, lagian yang kaya itu bapaknya, bukan Si Mule. Bapaknya kaya juga karena duit dari kita yang membeli barang dagangannya. Pak Fula juga  sekarang telah bertindak sebagai  lintah darat." Kata salah satu warga

"Kemarin kulihat Pak Tusa di Pukuli oleh anak buah Pak Fula."

"Hah? Di pukuli? Keterlaluan...padahal kan Pak Tusa sudah tua. Mengapa sampai Pak Tusa di pukuli?"

"Katanya utang Pak Tusa belum di lunasi."

"Wah...wah... memangnya Pak Tusa utangnya berapa sih?"

"Yang aku dengar sih, utangnya cuman lima puluh ribu tetapi setelah kemarin anak buah Pak Fula datang menagih, bunganya naik, jadi Pak Tusa harus membayar.... ya kalau tidak salah lima ratus ribu. Sedangkan kamu sendiri tau kalau Pak Tusa sudah tua renta, istrinya juga sudah lama meninggal."

"Keterlaluan sekali Pak Fula! Tega-teganya sampai bunga pinjaman  di naikkan sepuluh kali lipat. Dasar rentenir!"

Begitulah keluhan yang keluar dari para warga akibat ulah Pak Fula dan keluarganya. Pak Fula mempunyai  sebuah kios pertanian. Pak Fula membebaskan para warga mengutang  semaunya. Banyak petani tergiur dengan praktik yang di lakukan Pak Fula.

Awalnya memang harga terasa lebih murah, namun saat membayarnya para warga sendiri kebingungan dengan bunga yang begitu besar. Bahkan seluruh hasil pertanian sampai habis di gunakan untuk membayar utang. Dengan berkedok sebagai kios pertanian, Pak Fula telah berpraktik sebagai lintah darat.

Tangisan dan keluhan warga terdengar di mana-mana. Banyak yang kelaparan sebab tidak ada makanan. Sedangkan di rumah Pak Fula, babi sendiri di beri makan nasi. Hingga pada suatu hari tampak dua orang pria berlari tergesa-gesa menuju rumah Pak Fula. Keduanya adalah anak buah Pak Fula.

"Pak Fula... Pak Fula..." teriak kedua pria itu dengan gugup.

"Ehh Suki, Arki. Nampaknya kalian, kupikir siapa, ada apa? Kok wajah kalian seperti baru melihat hantu? Tanya Pak Fula menyelidik.

"Pak Fula, anak bapak kecelakaan, dan.... dan sekarang berada di rumah sakit umum. Tadi ada ambulance yang kebetulan lewat di situ, jadi anak bapak sudah di bawah ke rumah sakit umum." Jelas Arki

"Ya Tuhan... apakah Si Mule?"

"Benar Pak, tidak ada waktu lagi. Ayo kita tengok Mule di Rumah Sakit." Ajak Suki

"Sebentar saya ambil mobil dulu. Sania ayo panggil ibumu. Kata Pak Fula sebelum masuk ke garasi untuk mengambil mobil.

"Ada apa Pak? Kok suaranya panik sekali."

Kata Sania bingung. Sania berbeda dengan ayah dan adiknya Mule, Sania patuh kepada orang tua dan Sania tidak sombong. Sania selalu memberi salam ketika bertemu warga Desa Naikliu.

"Ayo cepat Sania, adikmu Mule sedang dalam keadaan sekarat, tutup semua pintu dan kita ke Rumah Sakit sekarang."

Ingin rasanya Ia bertanya lagi apa yang terjadi dengan adiknya, namun pertanyaan itu di simpannya dalam-dalam lantaran ayahnya sudah masuk ke garasi mobil. Segera Ia panggil Ibunya dan menutup semua pintu dan jendela. Sesudah itu Ia bersama Ibunya bergegas masuk ke dalam mobil. Mereka berangkat menuju Rumah Sakit Umum.

Keadaan Mule memang sangat parah. Kepalanya terbentur aspal, tangan dan seluruh tubuhnya penuh dengan luka dan percikan-percikan darah segar. Menurut keterangan para saksi, Mule menabrak sebuah truk yang sedang parkir di depan sebuah warung. Berkat pertolongan dokter, Mule pun sadar. Tetapi kata Pak dokter umur Mule tidak akan lama lagi di dunia ini karena otak kecilnya telah pecah. Walaupun dokter telah melakukan berbagai cara dan telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi ternyata takdir berkata lain. Tepat hari ketiga setelah berada di rumah sakit akhirnya Mule menghembuskan napas terakhirnya.

Sania hanya bisa menangis dan meratapi kepergian adik satu-satunya dengan air mata. Di tengah tangisan terdengar suara Bu Fula

"Mule jangan tinggalkan Ibu! Ohh...anakku betapa malangnya nasibmu..." tangis Bu Fula sambil memeluk Sania yang kini telah pingsan di dekapan ibunya.

"Yang sabar, Bu. Mungkin sudah takdir Tuhan, Ibu harus bisa menerima kenyataan ini. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi..."

Belum selesai Pak dokter bicara Pak Fula sudah pingsan lagi. Tangisan menyanyat hati terdengar dari luar rumah sakit. Suara itu berasal dari ruang UGD. Bu Fula sangat terpukul dengan peristiwa hari itu. Sejak kematian Mule anak kesayangan Pak Fula, kondisi keluarganya berbeda. Bu Fula kini di rawat di Rumah Sakit Jiwa, sedangkan usaha Pak Fula menurun drastis, karena di Desa Naikliu sudah ada Koperasi Unit Desa (KUD).

Para petani berangsur-angsur menjauhi kios pertanian milik Pak Fula. Lebih-lebih setelah anak buah Pak Fula memukul seorang janda hingga pingsan, para petani akhirnya benar-benar menjauhi Kios itu. Kios Pak Fula yang dulunya ramai mendadak sepi. Akibatnya Pak Fula harus menjual Sawah-sawahnya untuk keperluan rumah tangganya, pengobatan istrinya dan juga untuk biaya sekolah anaknya, Sania.

Keluarga Pak Fula jatuh miskin. Jangankan mobil, makanan untuk makan pun tak ada. Mau tidak mau Pak Fula harus menjadi pemulung sampah untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Terkadang saat duduk sendiri Pak Fula mengingat masa lalunya yang penuh dengan kebahagiaan, kebahagiaan sesaat. Tak terasa air mata jatuh di pipi. Pak Fula menyesali semua perbuatannya di masa lalu, namun ibarat pepatah mengatakan 'nasi sudah jadi bubur'.

Kini saatnya untuk Ia dapat menata kehidupan baru. Kehidupan yang lebih baik. Setiap hari Pak Fula mengumpulkan sampah sedangkan Sania membuat kue dan menitipkannya di warung-warung sebelum Ia berangkat ke Kuliah. Tak peduli kata teman-temannya, Sania tetap berusaha dan berjuang demi masa depannya, sebab kini Bu Fula telah Meninggal dunia.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa

Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek

11/04/2026 20:12 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 487 kali
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa

Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek

11/04/2026 20:11 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 101 kali
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa

Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek

11/04/2026 19:57 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 90 kali
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah

Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11

11/04/2026 19:20 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 261 kali
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah

Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11

11/04/2026 19:19 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 141 kali
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah

Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11

11/04/2026 19:12 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 78 kali
SMA Negeri 1 Amfoang Utara Salurkan Dana PIP untuk 184 Siswa, Kepsek Beri Teguran Keras Terkait Kedisiplinan

AMFOANG UTARA - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menyalurkan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 184 siswa dengan total nilai mencapai Rp317.700.000 (Tiga Ratus Juta Tujuh Ratu

06/02/2026 23:38 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 590 kali
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara

Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p

25/11/2025 18:51 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 483 kali
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara

Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p

25/11/2025 18:51 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 214 kali
Semangat Demokrasi Warnai Pemilihan OSIS SMA Negeri 1 Amfoang Utara, Paslon 1 Terpilih Sebagai Ketua dan Wakil OSIS 2025/2026

Amfoang Utara, Kompas - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2025/2026 pada Jumat, 10 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di l

13/10/2025 16:08 - Oleh SmansaAmfut - Dilihat 357 kali